Kata Siapa?

Kata Muhammad Hanif: “Jujur Berkarya (Usaha Membaca Karya Sastra)”

Prelude

Kejujuran menempati urutan pertama dalam ukuran moralitas kemanusiaan. Ia, melintasi agama dan semua religion yang ada. Dengan kata lain, semua suku bangsa dan agama serta religion menempatkan kejujuran dalam tataran moralitas tertinggi. Religion yang saya maksud adalah suatu bentuk keyakinan yang dengannya seseorang merasa dan dapat kebahagiaan. Dalam artian ini, ekonomi adalah sebuah religion. Suatu disipin ilmu yang karenanya seseorang merasa happy adalah sebuah religion. Sastra adalah sebuah religion juga adanya. Sastrawan merupakan makhluk religi dalam bidangnya. (more…)

Advertisements

Kata Edy A. Effendi: “Fanatisme dan Keseragaman dalam Puisi”

Nirwan Dewanto, seorang esais, dalam diskusi terbatas, di Warung Tenda Biru, Jalan Braga, Bandung, melihat ada gejala dalam proses penciptaan puisi dalam dasawarsa terakhir, yang ditandai semangat fanatisme dan keseragaman di sebagian penyair Indonesia. Tampaknya, lemparan pikiran Nirwan perihal sikap fanatisme itu, lahir dari semangat untuk memperkukuh proses penciptaan yang bersandar dari wilayah geografis semata, dan “penuhanan” terhadap “sosok guru” –figur yang dituakan– hingga napas kesadaran yang diemban, cenderung dibingkai oleh konvensi-konvensi lama dalam hal penulisan puisi, terutama dalam pemilihan kata dan gaya yang ditularkan dalam teks puisi. Semangat semacam inilah, yang kemudian, memberikan stigma keseragaman dalam puisi-puisi yang diciptakan sebagian penyair. Dan pada akhirnya, puisi yang tercipta, hanya bersandar pada kemampuan memainkan irama kata, dan teknik penulisan yang “dicanggihkan”.

(more…)

Kata Wislawa Szymborska: “Penyair dan Dunia”

Dalam sebuah pidato, Penerimaan Hadiah Nobel Sastra….

“Mereka bilang kalimat pertama dalam tiap pidato selalu merupakan yang tersulit. Ngomong-ngomong, kalimat pertama itu bagaimanapun sudah saya lalui. Namun, saya punya perasaan bahwa kalimat yang bakal datang –yang ketiga, keenam, kesepuluh, dan seterusnya, hingga kalimat terakhir– bakal sama sulitnya, karena saya mesti bicara mengenai puisi. Pada kenyataannya, saya bicara sedikit sekali mengenai masalah ini, hampir-hampir tidak pernah. Dan manakala saya mengemukakan sesuatu, saya selalu punya rasa gamang dan waswas bahwa saya tak begitu menguasainya. Itu sebabnya mengapa pidato saya akan sangat singkat. Segala ketaksempurnaan akan mudah ditoleransi jika disajikan dalam dosis yang kecil.”

(more…)

Kata Seno Gumira: “Puisi dan Kematian Budaya”

Setiap kali ada orang Indonesia menulis puisi, kita harus bersyukur, karena kalau toh ia tidak berhasil menyelamatkan jiwa orang lain, setidaknya ia telah menyelamatkan jiwanya sendiri. Puisi memang tidak bisa menunda kematian manusia yang sampai kepada akhir hidupnya, tapi puisi jelas menunda kematian jiwa dalam diri manusia yang masih hidup.

Kalau Anda setiap hari berangkat ke tempat kerja pukul 6.00 pagi dan pulang pukul 17.00 dan di rumah menunggu kantuk di depan TV, dan Anda menjalaninya begitu rupa sehingga kehilangan rasa bosan maupun rasa gembira selama 20 tahun, Anda telah mengalami kematian budaya.

Kalau Anda merasa bahwa selingan yang menggembirakan dalam hidup hanyalah menonton di bioskop Kelompok 21, jalan-jalan di mall, nongkrong di kafe, pergi ke Puncak atau Anyer, dan tempat-tempat “resmi” rekreasi lain, selama hidup Anda yang cuma satu kali ini, Anda telah mengalami kematian budaya.

Kalau Anda merasa bahwa kehidupan yang beradab itu hanyalah makan di restoran terpilih, mendengarkan musik klasik, nonton “seni beneran” dalam Art Summit, membaca buku-buku berat, mengambil kuliah S-3, dan berdiskusi tentang politik dan agama, tapi memandang sebelah mata kesenian pengamen jalanan yang bernyanyi untuk perut dan hidupnya, Anda telah mengalami kematian budaya.

Kalau Anda merasa harus menggauli puisi demi mutu hidup Anda, dan Anda merasa bahwa puisi hanya ditemukan ketika menulis atau membaca sajak-sajak, itu pun yang “bernilai sastra” [betapa kasihan kalimat ini sekarang], apa boleh buat, Anda juga telah mengalami kematian budaya.

Seperti kebahagiaan yang bisa datang ketika tidak diharapkan, demikianlah puisi bertebaran di mana-mana bagi mata hati yang memang terbuka untuk menangkapnya: seperti buku puisi ini telah membuktikannya kepada saya, ketika kloset -seperti sering kita lupakan, meski mengalaminya-dijelmakannya sebagai ruang kehidupan budaya.

Adapun kehidupan budaya maksudnya: perbincangan antara hati dan kepala ketika merenungkan dunia -dalam perbincangan itu berlangsung tarik menarik, antara menyerah, melawan, atau menawar kepada proses kematian budaya.

Selamat membaca. Artinya: selamat menafsir, dan menciptakannya kembali dalam diri Anda. Dengan begitulah puisi akan menyelamatkan jiwa dari kematian budaya.

Pondok Aren, Senin 5 Mei 2003

Oleh:
Seno Gumira Ajidarma
sbg. pengantar dari buku “Renungan Kloset” karya Rieke Diah Pitaloka, penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta thn. 2003.

Sumber: refanidea dan Renungankloset

 

Kata Saut Sitomurang: “Sastra yang Tidur dalam Kulkas”

Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.” Demikianlah bunyi empat baris pertama sajak Afrizal Malna yang berjudul ”Persahabatan Dengan Seekor Anjing” yang muncul dalam kolom yang sama dengan esai Suryadi berjudul ”Dobrak Kultus, Menjadikan ‘Merek Dagang’”(Media, 02/02/03). Kalau sajak Afrizal yang prose-poem itu tidak malu-malu bicara soal ”isu lama untuk pusat baru”, yaitu persoalan ”apakah sastra harus dengan teguh mengemban komitmen sosialnya atau, sebaliknya, tetap bertengger di menara gading”, dan telah melakukan pilihannya, maka esai Suryadi dengan tegas menolak memilih satu di antara keduanya tapi menawarkan sebuah pilihan baru yaitu sastra sebagai ”merek dagang”.

(more…)

Kata Maroeli Simbolon: “Menulis Puisi itu Gampang?”

bulan di atas kuburan

Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi — tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan samedhi.” Benarkah demikian?

Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi — seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci. (more…)

Kata Sutardji Calzoum Bachri: “Kredo Puisi”

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam. (more…)