Gelak Tawamu

Rampas roti itu dariku, jika kau mau
bawa udara pergi, tapi
jangan ambil dariku gelak tawamu.

Jangan bawa pergi mawar itu,
lembing bunga yang kau petik,
air yang tiba-tiba
membuncah riang,
gelombang perak mendadak
yang lahir dalam dirimu.

Perjuanganku keras dan aku kembali
dengan mata letih
setelah melihat
bumi yang tak berubah,
namun kala gelak tawamu tiba
ia terbit ke angkasa mencariku
dan dibukanya bagiku segala
pintu dari kehidupan.

cintaku, dalam kelam
waktu, gelak tawamu
membuka, dan jika tiba-tiba
kau lihat darahku menodai
bebatuan jalan raya,
tertawalah, sebab gelak tawamu
bakal menjelma sebuah pedang baru
bagi tanganku.

dekat samudra di musim gugur
gelak tawamu mesati terbitkan
air terjun berbusa,
dan di musim semi, sayang,
kudamba gelak tawamu bagai
bunga yang senantiasa kutunggu,
bunga biru, sang mawar
dari gema negeriku.

Tertawalah di malam hari,
di siang hari, di rembulan,
tertawalah di keruwetan
jalanan pulau ini,
tertawalah pada kikuk
pemuda yang mencintaimu.
namun saat kubuka
mataku dan menutupnya,
kala langkahku pergi,
kala langkahku kembali,
jauhkan dariku roti, udara,
cahaya, musim semi,
tapi jangan gelak tawamu
karena tanpanya ku kan binasa.

Oleh:
Pablo Neruda

Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Agus R. Sarjono
versi bahasa Inggrisnya

sumber: Jurnal Sajak, nomor 3 tahun II, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s