Pada Pohon Jambu

Di bawah pohon jambu aku ikrarkan
sumpah padamu. Seribu putik melayang
di angin lengang, seperti kata yang merujuk
pada namamu. Di hari usai sembahyang
bintang terang menampakkan sumpahku:
wajahmu ada di mana-mana.
Maka aku nyalakan kembali dupa,
berkata sungguh aku yang rindu telah bertamu.
Engkau menjawab sepi
dengan air mataku sendiri. Saat pamit pulang
tak kudengar suaramu. Sejak itu
aku memutuskan belajar bahasa
yang tak terdengar dan tak terucap,
dari hatiku yang bisu.

Jakarta, Agustus 2011

Oleh:
Hanna Fransisca

sumber: penyairhan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s