Sesungguhnya Suara

Pada dekat pintu kayu aku janjikan
suara untukmu. Rangkaian debu menari
dalam angin di celah, seperti bisik yang merayu
supaya merindu. Setelah hari menyudahkan
sunyinya langit memperdengarkan suaraku:
aku tak bisa berlalu.
Dan aku kembali pada cahaya lampu,
berbincang dengan bayang-bayang yang selalu semu.
Ia hanya berpaling
dari suara serakku mengadu. Setelah itu
aku mencoba untuk berlari
bukan mengejar tapi hanya menghindar
dari mana aku memuja lelahku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s