Puisi Tidak Tahu Berjudul Apa?

Senyum itu bermesraan dengan air mata
di akhir hari itu, sebelum mentari beradu di ujung sana
tatap itu penuh bunga
dan tak ada kata kecuali “hanya”
setiap detik mengadu pada detik lainnya
desir angin luluhkan kebosanan rumput-rumput liar
apalagi yang ditungguinya?
sulit tuk terima
berikut ribuan kenangannya
mengganti dengan satu pertanyaan:
“Kenapa?”
diam itu datang bersama gerimis yang sudah lama menyelinap di balik awan
tak saling bersuara kecuali keinginan tuk lekas beranjak
namun “jika” menahannya
terbeli suasana dengan harga yang tak sepantasnya
biarlah
biarlah sepotong rindu ikut merapuh dan tenggelam pada dasar rembulan
dan tak ada bercahaya kecuali mengenangnya
menjadi abu bila perlu
atau belukar yang sering mengadu
sudah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s