Kecendrungan Puisi Mutakhir Indonesia

Ini adalah sebuah ringkasan mengenai kecendrungan para penyair dalam melakukan penyimpangan tema dan bahasa yang nampaknya terasa begitu kuat pada penyair-penyair mutakhir. Tema puisi yang biasanya dikaitkan dengan hal yang sublim, yang halus, yang luhur, yang menghindari kata tabu, akhir-akhir ini melepaskan ikatan itu. Banyak penyimpangan yang dilakukan penyair sebagai wujud ekspresi kreativitasnya. Bentuk tipografi konvensional juga banyak ditinggalkan, sekalipun masih banyak juga penyair yang mempertahankan tipografi konvensional.

Pelopor: Sutardji Calzoum Bachri, Supardi djoko Damono, Goenawan Mohamad, Rendra, Linus Suryadi A.G., Abdul Hadi W.M., Darmanto Yt., Emha Najib, Hammid Jabbar, Eka Budianta, dan F. Rahardi.

Dami N. Toda mengibaratkan Chairil Anwar sebagai mata kanan dan Sutadji Calzoum Bachri sebagai mata kiri. Suatu paduan yang tidak dapat dipindahkan dan bersifat saling mengisi.

Ke-9 penyimpangan bahasa menurut Geoffrey Leech tersebut adalah:

  1. Penyimpangan lekslikal, maksudnya penyimpangan makna kata
  2. Penyimpangan semantik, artinya kebanyakan puisi menggunakan bahasa yang bermakna konotatif.
  3. Penyimpangan fonologis, artinya sering digunakan kata-kata dengan bunyi yang menyimpang untuk memperoleh efek kepaduan bunyi
  4. Penyimpangan morfologis, artinya penyimpangan dalam bentukan kata (proses morfologis).
  5. Penyimpangan sintaksis, artinya penyimpangan dalam pembentukan kalimat secara konvensional.
  6. Penyimpangan dialek, artinya pengambilan dialek asal penyair sehingga kata-kata bahasa daerah muncul.
  7. Penyimpangan register, artinya penggunaan ragam bahasa tertentu untuk ungapan perasaan khas.
  8. Penyimpangan histories, artinya pemakaian kata-kata yang sudah tidak umum dipakai dalam bahasa modern.
  9. Penyimpangan grafologis, artinya secara sengaja menyimpang dari sruktur linguistic Indonesia yang baku.

1. Mantra dan Puisi Konkret ( Sutardji Calzoum Bachri)

Puisi-puisi Sutardji menghidupkan kembali mantra Melayu dalam puisi Indonesia modern.

  • Mantra berarti menggunakan kata-kata atau bunyi-bunyi yang berulang untuk menciptakan daya magis, susunan kata yang mempunyai irama atau ritma dengan pemilihan kata-kata yang bersifat sublim sehingga memiliki kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang.

“ Kredo Puisi” (Calzoum Bachri)

Mantra merupakan wujud pengucapan yang pas. Bebas bereksperimen dengan kata-kata yang secara umum tidak bermakna namun mengandung rima dan ritma serta kekuatan gaib.

Contoh:

Lima percik mawar/ tujuh sayap merpati/ sesayat langit perih/ dicabik puncak gunung/ sebelas duri sepi/ dalam dupa rupa/ tiga menyan luka/ mengasapi duka. Puah!/ kau jadi Kau!/ Kasihku.

( Huss Puss ; 20)

  • Puisi Kongkret, yakni puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tatawajah yang disusun mirip dengan gambar. Ia ingin memperlihatkan kemanisan susunan kata-kata dan baris serta bait yang menyerupai gambar seperti: segitiga, huruf Z, kerucut, falat, belah ketupat, segi empat, dan sebagainya. Sutardji Calzoum Bachri banyak melakukan penyimpangan bahasa. Pergantian baris puisi mestinya harus diakhiri oleh satu kata penuh dan tidak oleh satu suku kata sebab antara baris satu dengan baris berikutnya sudah membentuk kesatuan sintatik yang berbeda.

Contoh:

Ngiau! Kucing dalam darah ia menderas

Lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber-

Gegas lewat dalam aortaku dalam rimba

Darahku dia besar dia bukan harimau bu-

Kan singa bukan hyena bukan loepar di-

Macam kucing bukan kucing tapi kucing

Ngiau dia lapar dia menambah rimba af-

Rikaku dengan cakarnya dengan amuknya

(Huss Puss;56)

  • Pemutarbalikkan makna, logika, dan kata-kata.

Sang penyair mampu memutarbalikkan makna kata, logika, dan juga pengulangan kata-kata itu. Pemutarbalikkan dan pembuatan variasi kata-kata itu begitu cerdas dan bermakna. Permainan tanda baca begitu bervariasi dan bermakna dan bukan sekedar untuk membantu bentuk grafisnya sehingga tercipta gambar puisi konkret yang dikehendaki, namun mewakili makna tertentu (seperti Tuhan dikaitkan dengan kucing) tadinya terkesan sebagai ungkapan kurang ajar (tidak logis). Namun setelah dipikirkan hal itu mewakili kegemasan dalam mencari rahasia Tuhan. Kata-kata yang dibalik dapat ditafsirkan sebagai usaha penyair mengatakan makna sebaliknya, namun dapat juga berarti permainan kata-kata untuk menunjukkan kegelisahan dan kesepiannya.

2. Penolakkan Bahasa yang Tabu (Rendra, Linus, Rahardi, dan Darmanto)

Bahasa yang tabu menunjukkan longgarnya nilai moral dalam diri penyair. Hal ini ditafsirkan oleh penyair sudah dalam taraf sangat “dongkol” memberi kritik atau mencari rahasia Tuhan.

Contoh Sutarji dalam O, Amuk, Kapak:

Karena kamar sudah bertelanjang berdiri/ beribu mat dari dinding-dinding ini ketawa lebar/ sia-sia-sia saja/ kau dan aku/ meski kulipat kau dalam dadaku/ meski kaulipas aku dalam pahamu.

“Malam Pengantin”

Linus mengunakan bahasa Jawa yang kuat dalam mengunggkapkan gelora perasaannya.
Contoh:

Kurang percaya dengan kejadian semalam/ sekali lagi ingin saya yakinkan/ Dengan jari telunjuk kanan/ saya raba anu saya/ O, Allah Gusti nyumun ngapura/ Tidak salah lagi, jemblong/ anu saya sudah bolong/ Saya sudah merasa kosong

(Pengakuan Pariyem; 70)

Saya kenal betul sama hasyat lelaki/ yang timbul dari gerak- geriknya/ Pendeknya, dia kasmaran sama saya/ Selagi saya membersihkan kamarnya/ Tiba-tiba saya dirtenggut dari belakang/ O, Allah, saya kaget setengah mati, mas/ sekujur tubuh saya digerayakinya/ pipi, bibir, penthil saya dingok pula/ Paha saya diraba-raba/ diraba-raba paha saya/ Tapi saya pasrah saja, kok/ saya lega lila.

3. Imajis, Parable, Atavis (Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono)

Parabel (cerita perumpamaan/perumpamaan) yang menunjukkan gejala atavisme (gejala penciptaan mitos baru berdasarkan mitos yang telah ada). Sapardi Djoko Damono menunjukkan parable dengan gejala atavisme yang didalamnya dilahirkan suatu nilai baru yang relevan dengan jamannya.

Contoh: Kisah “Damar Wulan Minakjinggo” ditampilkan dalam suasana modern oleh Goenawan Muhamad dalam puisi “Asmarandana”, Sapardi Djoko Damono dengan “Perahu Kertas” mengunggkapkan kisah “Nabi Nuh”.

4. Gaya Prosais (Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono)

Adalah puisi yang menyampaikan dengan gaya biasa. Gaya prosaic mengalami kemajuan tahun 66-an dipelopori Taufik Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Puisi tersebut sukar dibedakan kecuali larik-lariknya setiap baris tidak terdapat majas tidak terdapat ritma dan rima.

Contoh : Tukang Rambutan pada Istrinya
“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka…

Taufik Ismail

5. Kritik Sosial Terhadap Ketidakadilan (Rendra, Linus, Rahardi)

Kebanyakan kritik sosial yang dikemukakan pada puisi Indonesia mutakhir adalah masalah ketidakadilan. Istilah “Ketidakadilan” itu berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya.

  • Pengakuan Pariyem
    Di satu pihak puisi ini menampilkan sikap wanita Jawa yang pasrah, namun di lain pihak justru kepasrahannya itu merupakan kritik keras yang tersembunyi terhadap perlakuan yang tidak adil masyarakat Jawa terhadap seorang pembantu rumah tangga semacam Pariyem.
  • Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor
    Kritik-kritik sosial yang disampaikan Rendra dan kritik sosial Rahardi ini jauh bersifat detail dan operasionil. Karyanya bukan sekedar gambaran global tentang kepincangan sosial, namun detail peristiwa tentang terjadinya kepincangan itu.Contoh : “Tentang Rakyat”Tuhan/ menciptakan aurat dan syahwat/ pabrik tekstil/ menciptakan/ kutang dan/ cawat.
    Dan rakyat/ menciptakan kesempatan/ buat/ pejabat korup/ agar bebas/ melepas cawat/ dan mengumbar/ syahwat.

6. Puisi Lugu (Yudistira, Sides Sudyarto, dan Remy Silado)

Puisi Indonesia terdapat kecenderungan menciptakan puisi lugu, yakni puisi yang mengunakan teknik pengungkapan ide secara polos, dengan kata-kata serebral, dan kalimat-kalimat yang biasa atau polos, tidak memakai majas.

Contoh: “Karena Jajang” karya Arifin C. Noer

Tuhan/ saya minta duit/ buat beli sugus/ karena jajang/ lagi doyan sugus.

“Karena Jajang”

Tuhan/ saya tidak percaya/ jajang ada di selayo/sebab saya pernah tahu/jajang ada di mana/buktinya di kamar ini saja/jajang selalu menyanyi/dan saya tidak selalu berhasil/menemuinya.

sok dia! tuhan.

(Sok Dia!)

Nampak bahwa sajak di atas tidak begitu memerlukan perenungan dalam memahaminya. Majas, versifikasi, pemadatan bahasa tidak dipentingkan.

Oleh: Herman. J. Waluyo
sumber:esti2009indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s