Ballada Orang-orang Tercinta

Ballada Orang-orang Tercinta

Ballada Orang-orang Tercinta

Ballada Orang-Orang Tercinta
Oleh W.S. Rendra

Berisi 19 puisi dan merupakan buku kumpulan sajaknya yang pertama.

Ballada Kasan dan Patima

Bila bulan limau retak merataplah Patima perawan tua.

Lari ke makam tanah mati
buyar rambutnya sulur rimba
di tangan bara dan kemenyan.

Patima! Patima:
susu dan mata padat sihir
lelaki muda sepikan pinangan
dipanasi ketakutan guna-guna

Patima! Patima!
ditebahnya gerbang makam
demi segala peri dan puntianak
diguncangnya segala tidur pepokok kemboja
dibangunkan segala- arwah kubur-kubur rengkah
dan dengan suara segaib angin padang belantara
dilagukan masmur dan leher tembaga
mendukung muka kalap tengadah ke pusat kutuk:
– Duh, bulan limau emas, jejaka tampan
desak-desakkan wajahmu ke dadaku rindu
biar pupus dendam yang kukandung
panas bagai lahar, bagai ludah mentari.
– Patima yang celaka! Patima!
duka apa, siksa apa?
– Peri-peri berapi, hantu-hantu kelabu
himpun kutuk, sihir dari angin parang telanjang
dan timpakan atas kepala Kasan!
– Akan rontok asarn dan trembesi berkembang
kerna Kasan lelaki bagai lembu, bagai malam
dosa apa, laknat apa?
-Perihnya, perihnya! Luka mandi cuka
Kasan tinggalkan daku, meronta paksaku
terbawa bibirnya lapis daging segar mentah
penghisap kuat kembang gula perawan.

Dan angin berkata:
– Berlindung tudung senja mendung
berkendara pedati empat kuda
bersama anak bini ke barat
kota di tanah rendah
– Dan ditinggalkan daku bersama berahi putih
membelai kambin,.;-kambing jantan di kandang.

(Oleh nyalanya Patima rebah).

Beromong angin, dedaun gugur dan rumputan:
– Bini Kasan ludahnya air kelapa.
– Dan mata tiada nyala guna-guna.
– Anaknya tiga putih-putih bagai ubi yang subur.
– Kasan, ya, Kasan! Kutahu siapa Kasan!
pada malam bintang singgah di matanya
lelaki semampai berdarah panas
di dadanya tersimpan beberapa wajah perawan
dan di atas diriku ini kusaksikan
lima dara begitu pasrah dalam pejam mata
berikan malam berbunga, rintihnya bagai nyanyi
dan Kasan mendengus bagai sapi.
– Kutuknya menunggu pada Patima!
– Tanpa cinta diketuknya jendela perawan tua itu.
– Datang kutuknya! Datang kutuknya!
– Patima menguncinya bagi hati sendiri
sekali dirasa diperturutkannya didamba bagai bunga, diusapi bulu kakinya
bagi dirinya cuma! bagi dirinya cuma!
: maunya.
– Datang kutuknya! Datang kutuknya!
– Dan kini ia lari kerna bini bau melati
lezat ludahnya air kelapa.

Bau kemenyan dan kemboja goncang
bangkit Patima mencekau tangan reranting tua
menjilat muka langit api pada mata
dilepas satu kutuk atas kepala Kasan! Ya, Kasan!

Dan Kasan berkendara pedati empat kuda
terenggut dari arah dalam buta mata
terlempar ke gunung selatan tanah padas
meraung anak bini, meringkik kuda-kuda
dan semua juga kuda dikelami buta mata.
Datang kutuknya! Datang kutuknya!
Pada malam-malam bergemuruh di tanah kapur selatan
deru bergulung di punggung gunung-gunung
bukan deru angin jantan dari rahim langit
: deru. Kasan kembara berkendara pedati empat kuda
larikan kutuknya lekat, kecut cuka panas bara.

Ballada Lelaki-lelaki Tanah Kapur

Para lelaki telah keluar di jalanan
dengan kilatan-kilatan ujung baja
dan kuda-kuda para penyamun
telah tampak di perbukitan kuning
bahasa kini adalah darah.

Di belakang pintu berpalang
tangis kanak-kanak, doa perempuan.

Tanpa menang tiada kata pulang
pelari akan terbujur di halaman
ditolaki bini dan pintu berkunci.

Mendatang derap kuda
dan angin bernyanyi :
-‘Kan kusadap darah lelaki
terbuka guci-guci dada baja
bagai pedagang anggur dermawan
lelaki-lelaki rebah di jalanan
lambung terbuka dengan geram serigala!

O, bulu dada yang riap!
Kebun anggur yang sedap!

Setengah keliling memagar
mendekat derap kuda
lalu terdengar teriak peperangan
dan lelaki hidup dari belati
berlelehan air amis
mulut berbusa dan debu pada luka.

Pada kokok ayam ke tiga
dan jingga langit pertama
para lelaki melangkah ke desa
menegak dan berbunga luka-luka
percik-percik merah, dada-dada terbuka.

Berlumur keringat diketuk pintu.
– Siapa itu?
– Lelakimu pulang, perempuan budiman!

Perempuan-perempuan menghambur dari pintu
menjilati luka-luka mereka
dara-dara menembang dan berjengukan
dari jendela.

Lurah Kudo Seto
bagai trembesi bergetah
dengan tenang menapak
seluruh tubuhnya merah.

Sampai di teratak
istri rebah bergantung pada kaki
dan pada anak lelakinya ia berkata:
– Anak lanang yang tunggal!
kubawakan belati kepala penyamun bagimu
ini, tersimpan di daging dada kanan.

Ballada Petualang

– Masihkah berair sumur yang tua?
+ Ya manis, ya – – –
Apakah kakak sudah dipinang?
+ Ya manis, ya ya – –

Dua gagak terbang di muka.
Dengan tatapan mata jauh
ia berjalan mengulum kata.

Mama, betapa kecil ia!
Dan berjalan sendiri saja.

– Mereka kata di rumah hitam semua.
+ Ya manis, ya ya – –
– Jalanan tanpa bebuah tanpa pohonan.
+ Ya manis, ya ya – –

Menapak ia menapak
adalah rindu di tiap tindak.
Kerna tuju erat dipeluknya
tiada ia pingin berpaling.

Mama, betapa tegak ia.
Buah asam gugur di jalan
ia pungut dengan tangan
– Oi! Betapa disuka kecutnya!

– Orang cerita dua kubur di bukit:
+ Ya manis, ya ya – –
– Anak lelaki tak tinggal di rumah pusaka.
+ Ya manis, ya ya – –

Kerna akan diumpat detak jantungnya
tiada ia akan bisa balik
lalu ia pun menadah nasibnya.

Kampung tiada 1agi berwarna yang dulu
berkata para tetangga:
– Anak lelaki yang baik itu
mengapa tiada balik-balik juga?

Ballada Lelaki yang Luka

Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, Mama!
Akan disatukan dirinya
dengan angin gunung.
Sempoyongan tubuh kerbau
menyobek perut sepi.
Dan wajah para bunda
Bagai bulan redup putih.

Ajal! Ajal!
Betapa pulas tidurnya
di relung pengap dalam!
Siapa akan diserunya?
Siapa leluhurnya?
Lelaki yang luka
melekat di punggung kuda.

Tiada sumur bagai lukanya.
Tiada dalam bagai pedihnya.
Dan asap belerang
menyapu kedua mata.
Betapa kan dikenalnya bulan?

Betapa kan bisa menyusu dari awan?
Lelaki yang luka
tiada tahu kata dan bunga.

Pergilah lelaki yang luka
tiada berarah, anak dari angin.
Tiada tahu siapa dirinya
didaki segala gumung tua.
Siapa kan beri akhir padanya?
Menapak kaki-kaki kuda
menapak atas dada-dada bunda.

Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, Mama!
Meratap di tempat-tempat sepi.
Dan di dada:
betapa parahnya.

Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut burni
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

Segenap warga desa mengepung hutan itu
dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

– Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah la kerna padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang.

– Joko Pandan! Di mana ia:
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala.

– Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ke tiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang –
la telah membunuh bapanya.

Gerilya

Tubuh biru
tatapan mata biru lelaki terguling di jalan.

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana.

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan.

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kasumatnya.

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama.

la beri jeritan manis
dan duka daun wortel.

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan.

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya.

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki terguling di jalan.

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya

TahananĀ 

Atas ranjang batu
tubuhnya panjang
bukit barisan tanpa bulan
kabur dan liat
dengan mata sepikan terali.

Di lorong-lorong
jantung matanya
para pemuda bertangan merah
serdadu-serdadu Belanda rebah.

Di mulutnya menetes
lewat mimpi
darah di cawan tembikar.
Dijelmakan satu senyum
bara di perut gunung.
(Para pemuda bertangan merah
adik lelaki neruskan dendam).

Dinihari bernyanyi
di luar dirinya.
Anak lonceng

menggeliat enam kali
di perut ibunya.
Mendadak
dipejamkan matanya.

Sipir memutar kunci selnya
dan berkata:
– He, pemberontak
hari yang berikut bukan milikmu!

Diseret di muka peleton algojo
ia meludah
tapi tak dikatakannya:
– Semalam kucicip sudah
betapa lezatnya madu darah.

Dan tak pernah didengarnya
enam pucuk senapan
meletus bersama.

Ballada Penyaliban

Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.

Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.

Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
– Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
berilah kami bianglala!

la melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.

Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.

– Perempuan!
mengapa kautangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?

Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.

Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
– Bapa, selesailah semua!

Ballada Ibu yang Dibunuh

Ibu musang di lindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
oleh lengking pekik yang lebih menggigilkan pucuk-pucuk daun
tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya
ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua

Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin Tenggara.

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa
tanpa dukungan satu dosa. Tanpa.

Ada Tilgram Tiba Senja

(Ada tilgram tiba senja
dari pusar kota yang gila
disemat di dada bunda).

(BUNDA, LETIHKU TANDAS KE TULANG
ANAKDA KEMBALI PULANG).

Kapuk randu! Kapuk randu!

Selembut tudung cendawan
kuncup-kuncup di hatiku
pada mengembang bemerkahan.

Dulu ketika pamit mengembara
kuberi ia kuda bapanya
berwarna sawo muda
cepat larinya
jauh perginya.

Dulu masanya rontok asam jawa
untuk apa kurontokkan air mata?
cepat larinya
jauh perginya.
Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
menghunjam ke rimba dan pusar kota.

Tinggal bunda di rumah menepuki dada
melepas hari tua, melepas doa-doa
cepat larinya
jauh perginya.

Elang yang gugur tergeletak
elang yang gugur terebah
satu harapku pada anak
ingat ‘kan pulang ‘pabila lelah.

Kecilnya dulu meremasi susuku
kini letih pulang ke ibu
hatiku tersedu
hatiku tersedu.

Bunga randu! Bunga randu!
Anakku lanang kembali kupangku.

Darah, o, darah
ia pun lelah
dan mengerti artinya rumah.

Rumah mungil berjendela dua
serta bunga di bendulnya
bukankah itu mesra?

Ada podang pulang ke sarang,
tembangnya panjang berulang-ulang
– Pulang ya pulang, hai Petualang!

Ketapang. Ketapang yang kembang
berumpun di dekat perigi tua
anakku datang, anakku pulang
kembali kucium, kembali kuriba.

Tangis

Ke mana larinya anak tercinta
yang diburu segenap penduduk kota?
Paman Doblang! Paman Doblang!

la lari membawa dosa
tangannya dilumari cemar noda
tangisnya menyusupi belukar di rimba.

Sejak semalam orang kota menembaki
dengan dendam tuntutan mati
dan ia lari membawa diri.
Seluruh subuh, seluruh pagi.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Ke mana larinya anak tercinta
di padang lalang mana
di bukit kapur mana
mengapa tak lari di riba bunda?

Paman Doblang! Paman Doblang!
Pesankan padanya dengan angin kemarau
ibunya tang tua menunggu di dangau.

Kalau lebar nganga lukanya
mulut bunda ‘kan mengucupnya.

Kalau kotor warna jiwanya
ibu cuci di lubuk hati.

Cuma ibu yang bisa mengerti
ia membunuh tak dengan hati.

Kalau memang hauskan darah manusia
suruhlah minum darah ibunya.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Katakan, ibunya selalu berdoa.
Kalau ia ‘kan mati jauh di rimba
suruh ingat marhum bapanya
yang di sorga, di imannya.

Dan di dangau ini ibunya menanti
dengan rambut putih dan debar hati.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Kalau di rimba rembulan pudar duka
katakan, itulah wajah ibunya.

Anak yang Angkuh

Betapa dinginnya air sungai .
Dinginnya. Dinginnya!
Betapa dinginnya daging duka
Yang membaluti tulang-tulangku.

Hai, anak!
jangan bersandar juga di pohonan.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Di luar angin menari putar-putar.
Si anak meraba punggung dan pantatnya.
Pukulan si Bapak nimbulkan dendam).

Masih terlalu kecil ia
digembungkan dadanya kecil
diangkatnya tinjunya kecil.
Amboi! Si jagoan kecil
menyusuri sungai darah.

Hai, anak!
Bara di matamu dihembusi angin.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Daun-daun kecil pada gugur
dan jatuh atas rambutnya.
Si anak di jalan tolak pinggang.
Si jantan kecil dan angkuh).

Amboi, ingusnya masih juga!
Mengapa lelaki harus angkuh
minum dari puji dan rasa tinggi
dihangati darah yang kotor?

Hai, anak!
Darah ayah adalah di ototmu
Senyumlah dan ayahmu akan lunak
Di dada ini tak jagoan selain kau.

Dan satu senyurn tak akan mengkhianati kata darah,
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Dengan langit sutra hitam
dan reranting patah di kakinya
si anak membusung tolak pinggang
kepala tegak dan betapa angkuhnya!)

Ballada Gadisnya Jamil, Si Jagoan

Begitu ia masuk ke dalam kali
perawan dengan dada-dada pepaya.
Sebab kedua matanya
telah ia tatapkan pada bulan
dan terkaca pada segala
hidup bukan lagi miliknya.

– Jamil! Jamil!
Bahkan pandang terakhir
tiada aku diberinya.
Punahlah sudah punah
lelaki yang hidup dari luka.
Kerbau jantan paling liar
memberi gila di dada berbunga.

Begitu ia masuk ke dalam kali
ikan larikan kail di rabunya
di pusaran putih
segala tuba.

– Jamil! Jamil!
Amis darah di mulutnya
kukulum keraknya kini.
Jamil! jamil!
Bersuluh obor mereka mengejarnya
setelah ia bunuh anak lurah di pesta.
Dan tikaman paling dendam
melepas dahaga hitam
pada tubuhnya yang capai.

Si dara menatap bulan di air
didengarnya bisik arus gaib.
Begitu ia masuk ke dalam kali.

Tiada kemboja di sini
dan gagak-gagak dilekati timah
pada mata-matanya.

Lala! Nana!
Tembang malam dan duka cita!
Angin di pucuk-pucuk mangga.
Tapi siapa ‘kan nyanyi untuknya?

Di Meja Makan

la makan nasi dan isi hati
pada mulut terkunyah duka
tatapan matanya pada lain sisi meja
lelaki muda yang dirasa
tidak lagi dimilikinya.

Ruang diributi jerit dada
Sambal tomat pada mata
meleleh air racun dosa.

Dipeluknya duka erat-erat
dikurung pada bisu mulut
dan mata pijar warna kesumba.

Lelaki depannya mengisar hati
– sudah lama.

Terungkap rahasia diperam rasa
terkunci pintu hati, hilang
kuncinya – sudah lama.

la makan nasi dan isi hati
pada mulut terkunyah duka
memisah sudah sebagian nyawanya
di hati ia duduk atas keranda.

Lalu ditutup matanya gabak
gambaran yang digenggam olehnya:
lelaki itu terhantar di lantai kamar
pisau tertancap pada punggungnya.

Ballada Penantian

Gadis yang dilewati kedaraannya merenda depan jendela
menggantungkan hari muka dan anggur hidupnva
pada penantian lelaki petualang yang jauh
pada siapa dulu telah ia serahkan malam kedaraannva yang agung.
Janjinya kembali di Tahun Baru belum juga terpenuhi.
(Lelaki itu tak punya pos dan pangkalan).

la menanti depan jendela, dilewati kedaraannya.

Kereta mati membawa ibunya, di belakangnya tiga Tahun Baru pula tiba
usia sendiri meningkat juga di tiap permunculan bulan muda.

la menanti depan jendela, terurai rambutnya.

Kail cinta membenam pada rabu, dilarikan ke lubuk-lubuk yang dalam
tiada terlepas juga dan tetes darahnya dilulur kembali ke dada.

la menanti depan jendela, tetes hujan merambat di kaca
Adik-adiknya sudah dulu ke altar, dada-dada diganduli bayi dan lelaki
lukanya mendindingi dirinya dari tiap pinangan pulang sia-sia.

la menanti depan jendela, ketuaan mengintip pada kaca.

Kandungan hatinya mengelukan jumlah kata, seperti kesingupan gua
sebuah rahasia yang hitam, apa kepercayaan apa dendam
ditatapnya ujung jalan, kaki langit yang sepi menelan segala senyumnya.

la menanti depan jendela, rambutnya mengelabu juga.

Dendamnya telah dibalaskan pada tiap lelaki yang ingin dirinya
subuh demi subuh khayal merajai dirinya
makin bersilang parit-parit di wajah, beracun bulu matanya
tatapan matanya menggua membakar ujung jalan.
Ia menanti tidak lagi oleh cinta.

la menanti di bawah jendela, dikubur ditumbuhi bunga bertuba.
Dendamnya yang suci memaksanya menanti di situ dikubur
di bawah jendela.

Ballada Anita

Ketakutan berbentuk lembut bercokol di dadanva
bicara dalam kenekatan memacu lepas-lepas butirdarah-butir darah,
meratai bunga-bunga, membungai tiap usia
sebelum dikejuti pintu menutup baginya.

Anita.
Memacu kuda garang, merasuk hidup jalang
ditolaknya setiap perhentian.

Anita.
Dikutukinya cinta sarang cemburu, degil dan duka
berpacu juga ia yang terlanda rebah di kakinya.

Sampai tiba-tiba terpaling kepalanva
satu binar caya mengubah warna iklim
lelaki berotot mengurungnya pada cinta
yang dengan angkuh memandang ke darahnya berpacuan.

Anita.
Lelaki itu memperkosanya di ladang
hujan gerimis menambah ribut dada dan alang-alang,
lalu meninggalkannya dengan dingin mata
menenggelamkan diri bagi bahasa cinta.

Anita.
Derai gerimis menampar muka
kutuk membalik mendera dirinya
dadanya yang subur terguncang-guncang oleh damba.

Anita.
Dijatuhkannya dirinya dari menara.

Perempuan Sial

la terbaring di taman tua
pestol di tangan dan lubang di jidatnya

Mereka menemuinya tanpa dukacita
dan angin bau karat tembaga.

Mulutnya mengibit berahi layu
bunga biru dan berbau.

Matanya tidak juga pejam
lain mimpi, lain digenggam.

Ah, tubuhnva! Ah, rambutnya!
Tempat tidur tersia suami tua.

Bunga bagai dia diasuh angin
oleh nasib jatuh ke riba lelaki tua dingin.

Nizar yang menopangnva dari kelayuan
perempuan bagai bunga, lelaki bagai dahan.
Lelaki muda itu bertolak tinggalkan dia
tersisa jantung dan hati dari timah.

la terbaring di taman tua
pestol di tanglan dan lubang di jidatnya.

Suaminya yang tua berkata:
– Farida, engkau ini perempuan sial!

Ballada Sumilah

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara.

Datang yang berkabar bau kemboja
dari sepotong bumi keramat di bukit
makan dari bau kemenyan.

Sumilah!
Rintihnva tersebar selebar tuiuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya
– Samijo! Samijo!

Bulan akan berkerut wajahnva
dan angin takut nyuruki atap jerami
seluruh kandungan malam pada tahu
roh Surnilah meratap dikungkung rindunya
pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka
begini mulanya:
Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan
ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya
dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriarn pertama
malam muntahkan serdadu Belanda dari utara.

Tumpah darah lelaki
o kuntum-kuntum delima ditebas belati
dan para pemuda beribukan hutan jati
tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

Demi hati berumahkan tanah ibu
dan pancuran tempat bercinta
Samijo berperang dan mewarnai malam
dengan kuntum-kuntum darah
perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

Terkunci pintu jendela
gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada
ngeri mengepung hidup hari-hari

Segala perang adalah keturunan dendam
sumber air pancar yang merah
bebunga berwarna nafsu

dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja
reruntuklah sernua merunduk
bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu
dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai
kerna musuh tahu benar arti darah
memberi minum dari sumber tumpah ruah
nyawanya kijang diburu terengah-engah.

Waktu siang mentari menyadap peluh
dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Ali
di satu semak menggumpal daging perawan
maka diserunya bersama derasnya darah:
– Siapa kamu?
– Daku Sumilah daku mendukung duka!
Belanda berbulu itu membongkar pintu
dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia.
– Duhai diperkosanva dikau anak perawan!
– Belum tagi! Demi air daraku merah: belum lagi!
Takutku punya dorongan tak tersangka
tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur.
– O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah
koyak-moyak batumu muntahkan dadamu
lenyaplah segala kerna tiada lagi kau punya
bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra,
– Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri
di mulut tujuh desa.terucap Sumilah dan nodanya.

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri
noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati
lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangya
dan Samijo kerahkan segenap butir darah
lebih setan daripada segala kerbau jantan.

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih
antara bebatang jati dengan rambut tergerai
Sumilah yang malang mendamba, Samijonya
menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

Satu tokoh menonggak di tempat luang dan berseru dengan nada api nyala:
– Berhenti! Sebut namamu!

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah:
– Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku.
Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu.
– Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati!
– Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

Bulan keramik putih tanpa darah
warna jingga adalah mata Samijo
menatap ia dan menatap amat tajamnya.

– Padamkan jingga apimu. Padamkan!
Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

Bulan keramik putih bagai pisau cukur
sayati awan dan malam yang selalu meratap
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

– Samijo, ambil tetesan darahku pertama
akan terkecap daraku putih, daramu seorang
Batang demi batang adalah balutan kesepian
malam mengempa segala terperah sendat napas
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

– Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu
kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada.
Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam.

Wama pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata:
– Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu,
jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa
aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan
lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati
tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

Sedihlah yang bercinta kerna pisah
lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya
dan segalanya itu tak ‘kan padam.

Kokok avam jantan esoknya bukanlah tanda menang
adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang
karena warga desa jumpai mayat Samijo nemani guguran
talok depan tangsi Belanda.

Merataplah semua meratap
kerna yang mati menggenggam dendam
di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia.

Kerna dendamnya siksa airmatanya terus kembara
menatap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya
dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa
gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

Sumilah! Sumilah!
Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara
rintihnya tersebar selebar tujuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya:
– Samijo! Samijo!
Matamu Tuan begitu dingin dan kejam
pisau baja yang mengorek noda dari dada
dari tapak tanganmu angin napas neraka
mendera hatiku berguling lepas dari rongga
bulan jingga, telaga kepundan jingga
ranting-ranting pokok ara
terbencana darahku segala jingga
Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!

(Rendra, Balada Orang-Orang Tercinta. Cetakan ke sembilan, tahun 1999, Jakarta: Pustaka Jaya)

Sumber: Facebook; Tentang Sastra dan Budaya.

Kumpulan Puisi
WS Rendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s