Ah..

Aku pernah menyaksikannya, bisik pohon asam tua
Kepada angin yang kebetulan mencumbunya di siang terik itu,
Sesaat sebelum angin menghilang di udara panas

Aku pernah menyaksikannya, bisik pohon asam tua itu kepada
Dirinya sendiri, karena angin telah pergi bersama udara panas yang
Menggandengnya

Ya, aku pernah menyaksikannya,
Menguak dan mengais-ngais sesuatu,
Memungut, menimbang-nimbang dan menggosok-gosoknya
Sedikit
Sebelum akhirnya disimpan dalam catatannya

Udara siang berputar-putar melakukan tarian panas,
Angin berkelebat dan menggoyangkan daun-daun asam,
Kapankah itu? Bisiknya sebelum sesaat kemudian
Dipeluk tarian panas

Aku tak bisa mengingatnya lagi, dengan pasti
Atau, jangan-jangan, bahkan yang kusaksikan sebenarnya
Adalah kisah yang dituturkan entah siapa kepadaku, dulu
Yang dengan begitu saja menjelma di mataku

Angin tertawa, mengelilingi dan memilin udara
Yang berputar makin panas
Debu terpaksa menutupinya dengan selapis tipis warnanya yang pucat

Dia memungut, menimbang-nimbang,
Kadang diusapnya dengan lelehan keringatnya sendiri
Bahkan dengan darahnya sendiri!

Udara rebah. Debu luruh. Angin diam
Lalu?, bisik angin lirih,
Lalu disusunnya kembali apa yang dipungutnya,
Yang selama ini teronggok di sepanjang jalan ini

Oleh:Yanusa Nugroho
Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s