Serapah Rindu untuk Malam

Selalu pada senja kau datang perlahan,
mengiris hati di hariku pelan…
Kau pemicu kesepian, menelan segala luapan..
dari hanya sepotong pilu, hingga ribuan keheninganmu,
kau terus menikam lelahku…
dan gelapmu terus membutakan arahnya…
Malam…
ada seranting kayu terjatuh meramaikanmu…
ada segulung ombak gusar menemanimu..
ada suasanamu menghempas jantungku…
dan, Hey… ini sudah terlalu malam…
ini sudah terlalu dirimu…
Aku membencimu karena cinta..
aku merindukanmu karena serapahku,
aku mencintaimu karena diriku.
Terlalu lama untuk pagi yang selalu ada…
titipkan embunmu pada nada-nada harapan,
“adakah embunku nanti saatku.. malam”
seiring waktu yang terjinjing.. embun juga pergi..
kau pun tak menangis, diam..
sanggah sedihmu dengan terangnya bulan..
kerlipnya bintang…
namun, anginmu tetap dingin,
awanmu menghitam…
dan lalu hujan…..
siapa salahkan siapa?

Perahu di buritan saling beradu,
pada dasarnya mereka mengadu…
bukan dengan menangis tersedu,
atau saling lempar dadu…
mereka hanya coba buat malam rindu…

May 8, 2010, 4:29pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s