dalam malam
Tak ada kata selamat tinggal
tidak bisikan-bisikan rindu
atau celoteh kecil tentang bintang
Yang tersisa hanya,
diskusi panjang mengenai harapan
dan, aku terbangun di tengah-tengah perdebatan
antara waktu dan keputusan…
Kapan Aku Marah-marah?!
Coba rekam marahmu sendiri
rekam di mana saja,
mau kaset, cd, hp, blackberry, laptop, ipod, ipad! Pokoknya rekam…
lalu putar…
Putar tiap pagi, sebelum
kamu mandi,
sebelum kamu bikin kopi
sebelum kamu nonton televisi
sebelum kamu beranjak pergi
Lalu putar lagi siang nanti,
dan sore lagi
dan malam lagi…
jangan berhenti…
Putar, putar dan putar!
Dengar, dengar dan dengar!
Kepada Sebuah Sajak
Dengan rendah hati kuserahkan kau kepada dunia
sebab bukan lagi milikku. Tegaklah
bagai seorang lelaki yang lahir dalam zaman
yang riuh rendah
dan memberontak.
Kulepas kau ke tengah pusaran topan
dari masalah manusia, sebab telah dilahirkan
tanpa ayah dan ibu.
Dari jemariku yang papa
kaupun menjelma secara gaib, wahai nurani alam
aku bukan asal asulmu. Kutolakkan kepada dunia
nama baik serta nasibmu.
Aku tak lagi berurusan denganmu.
Sekali kau lahir lewat tangan-tanganku, tegakalah
seperti lelaki yang tanpa ibu-bapa
mempertahankan nasibnya sendiri
terhadap gergaji waktu .
Oleh:
Sapardi Djoko Damono
Majalah Basis, no. 8., Th XVI, Mei 1967
dikutip dari buku:
Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya
Oleh: Bakdi Soemanto
Grasindo, Jakarta, 2006
Percuma Teriak Percuma!
Tidak percuma!
kecuali berteriak,
dan katakan aku “monyet!”.
Itu percuma…
atau bukan “monyet”,
lebih diperhalus, “bukan orang!”
dan berlanjut pada anakan-anakannya:
“nggak berperasaan!”, “nggak bermoral!”, “tidak berhati nurani!”, apalah… Itu percuma…
sungguh, sangat-sangat percuma GOBLOK!!
Ya, Kita Memerlukan Seorang Kekasih
Bila sungai-sungai bermuara ke lautan
Laut manakah muara bagi sungai dalam hatiku
Bila burung-burung terbang bebas di cakrawala
Manakah cakrawala tempat mengembangkan sayap
Bagi rindu yang menggelepar dalam dadaku
Bila taman-taman pun juga punya pengasuh
Siapakah pengasuh jiwaku yang buncah ini ?
Ya, kita memerlukan seorang kekasih
Hatinya bagai lautan dadanya cakrawala
Budinya lembut buat mengasuh dan menjinakkan
Ya, kita memerlukan seorang kekasih untuk
menemani kita kita membaca kisah-kisah
menampung kecewa dan meredakan gelisah
membukakan pintu di malam larut
Bila angin berlari pepohonan melambaikan jari-jarinya
Siapakah yang melambai bila aku sedang berkelana
Akar pohon-pohon berpegang erat pada tanah dan batu
Tapi jiwaku yang gamang ke manakah hendak berpegang
Akan terkatungkah aku, mencari atau menunggu
Kamarku yang suram merindukan seorang tamu
Ya, kita memerlukan seorang kekasih
Lengan-lengan yang membelai, memagut jadi satu
Menyalakan lampu, mendoa dan menyulam impian
Malaikat-malaikat syorga pun melayang rendah
Ketika Tuhan merestui satu percintaan
Hingga bumi pun simpati, turut serta orang-orang lalu
Sebab demikianlah alam, Tuhan telah ciptakan
1967
Oleh:
Leon Agusta
1967
sumber:agustaleon
Sudah Malam Sekarang
Halo,
selamat sore…
aku melihat senyummu tadi siang
senyum yang membuat
es-teh-manisku tak jadi tertelan
malah mengalir keluar lagi
aku juga jauh dari sadar
ketika sadar
aku sedang membuat baris terakhir
di puisi ini…
sekian.
Mimpi
Baru sedikit kutelan hujan
malam, beri aku jalan…
jejak-jejak yang disimpan
atau cahaya makin redup
aku adalah secercah waktu
yang menggunjing lelah
Telah sampai di ujung sepi
kembali pada debur ombak
di halaman dekat pintu
di tali-tali api dalam hitam
atau titik-titik serupa bintang
sungguh angin ini kecewa
Aku dengar gelap senyuman
aku lihat gaduhnya hujan
tak sempat ucapkan tawa
sudah didapatinya kesal
dan dihujamkannya sindiran
kepalsuan tak segera tiba
yang menderita itu diam
Setelah rasa berdegup kencang
setelah waktu tentunya
setelah terbentur resah
atau hanya jeratan emosi
suasana yang riuh-ramai
benarkah aku tenggelam
atau hanya terbayang
Kembali pada gelap masih
yang menyelinap bertubi-tubi
pada jendela-jendela
teringat untuk menyapa
kala sedikit cahaya
sudah berbincang-bincang
sering kulewatkan saja.